Senin, 16 Mei 2016

MEMUTUSKAN HUKUM SYARIAT TAMPA BERMADZHAB

Themaster Syafi'i Assaif
16 Januari pukul 19:57
Assalamu alaikum,,,
Bagaimana pendapat ust,, kalo memutus kan hukum syari'at,, tanpa bermazhab,, sah atau tidak,,

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Bagaimanakah status putusan hukum syari’at tanpa bermadzhab?”

    Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani di dalam kitabnya (al Tsimaru al Yani'ah Syarah Riyadlu al Badi’ah)menyatakan bahwa wajib atas orang yang tidak memiliki potensi sebagai mujtahid mutlak untuk bertkalid pada salah satu dari 4 ilmuan terkemuka: Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hambal radliyallahu ‘anhum. Dan tidak diperbolehkan bertaklid kepada selain mereka dari para mujtahid yang lain walaupun dari kalangan pembesar sahabat, karena madzhab mereka tidak tercatat dan tidak diakui.

    Imam Badruddin; Muhammad bin Bahadir bin Abdillah al Zarkasi di dalam kitabnya (al Bahru al Muhith) juga menyatakan bahwa kalangan manusia terbagi menjadi 3 golongan, yaitu; Mujtahid, orang awam, dan orang yang berilmu yang belum mencapai fase ijtihad. Yang pertama adalah orang awam, mayoritas Ulama’ menyatakan bahwa diperbolehkan baginya untuk meminta fatwa, dan wajib atas dirinya untuk bertaklid dalam cabang-cabang syari’at secara keseluruhan, dan ilmu yang dimilikinya yang belum sampai pada taraf ijtihaj tidak berlaku.

    Imam Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Amr Ba’alawi di dalam kitabnya (Bughyah al Mustarsyidin) juga menyatakan bahwa ada orang orang yang pandai dan cerdas, ia banyak mempelajari kitab-kitab karangan Ulama’ klasik (salaf, terdahulu), baik Tafsir, Hadits, maupun ilmu Fiqh, kemudian menghukumi suatu masalah dengan pendapatnya sendiri, maka orang semacam ini adalah sesat dan menyesatkan yang justru menjauhkan dari pokok agama yang benar dan jalan pemimpin para Rasul, ya’ni Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menolak kitab-kitab Ulama’ terdahulu yang yang notabene adalah para ilmuan, mereka menyuarakan tentang tidak wajibnya bermadzhab dan mengarahkan kepada pemahaman agama dari hasil ijtihadnya sendiri, mereka mengaku menggali hukum (beristinbath) langsung kepada al-Qur’an dan Hadits dengan pemahaman sendiri, sedang mereka tidak memenuhi kriteria syarat-syarat berijtihad yang sudah populer dikalangan para pakar, mereka mewajibkan masyarakat untuk mengikuti hasil ijtihad mereka. Maka orang semacam itu (yang mengklaim berijtihad langsung/menggali hukum langsung dari al-Qur’an dan Hadits) wajib atas mereka bertaubat dan kembali kepada jalan kebenaran (sesuai pemahaman mayoritas Ulama’ terdahulu), dan masyarakat wajb menolak ajakan mereka yang bathil. Apabila kitab-kitab karya Ulama’ terdahulu dikesampingkan (tidak dipakai), maka dengan apa seseorang memahami agama ini yang selanjutnya dipakai untuk pedoman hidup? Padahal ia tidak bertemu langsung dengan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak bertemu dengan para sahabat Nabi, jila kebetulan ia memiliki sebuah kitab karya Ulama’ terdahulu, lalu ia mempelajarinya sendiri, kemudian dalam proses memahami kitab tersebut ia salah pemahaman, maka kepada siapa ia akan minta petunjuk untuk membenarkan pemahamannya?. Silakan jelaskan kepada kami! Sesungguhnya kitab-kitab karya para Imam agung 4 Madzhab dan para Ulama’ yang mengikuti mereka, sumbernya adalah al- Qur’an dan Sunnah. Bagaimana proses ijtihadnya sehingga menyelisihi dan menyalahi pendapat-pendapat mereka? Kenapa mereka-mereka yang saat ini mengaku berijtihad langsung dan kembali kepada al- Qur’an dan Hadits menghasilkan pendapat dan pemikiran yang sangat jauh dari para Imam 4 Madzhab tersebut? Berkata al-Imam al-Syaikhani dan pendahulu mereka; al-Imam al-Fakhrur Razi: “Orang-orang zaman sekarang ini ibarat perkumpulan banyak orang, hanya saja tidak ada mujtahid di dalamnya”. Syaikh Ibnu Hajar mengutip fatwa dari sebagian para pakar Ushuluddin:“Sesungguhnya setelah kurun masa Imam Syafi’i, tidak ditemukan lagi seorangpun yang mencapai derajat mujtahid mustaqil (mujtahid yang menggali langsung al-Qur’an da SHadits). Contoh terdekat , Imam al- Suyuthi yang dikenal luas ilmunya dan mengusai berbagai bidang ilmu, beliau berijtihad dengan nisbi (mengikuti pendapat Imam Syafi’i), tidak sebagai mujtahid mustaqil, kenapa beliau tidak berani? padahal kitab-kitab karya beliau sangat banyak, tidak kurang dari 500 (lima ratus) kitab. Sesunguhnya orang-orang yang menggali hukum sendiri seperti layaknya seorang mujtahid mustaqil dan menganggap hasil ijtihad mereka benar, hal itu tidak diperbolehkan, walaupun mereka memastikan bahwa mereka adalah seorang mujtahid mustaqil, seperti layaknya mujtahid terdahulu’’.

    Berdasar pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa orang yang memutuskan sebuah hukum syari’at tanpa mengikuti 4 madzhab yang berlaku adalah tidak sah, dan tidak boleh diikuti walaupun ia memiliki potensi sebagai mujtahid. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Ibnu Malik:

فيجب على من لم يكن فيه اهلية الإجتهاد المطلق ان يقلد واحدا من الائمة الأربعة الإمام الشافعي والإمام ابي حنيفة والإمام مالك والإمام احمد بن حنبل رضى الله عنهم ولا يجوز تقليد غير هؤلاء الأربعة من باقي المجتهدين في الفروع ولو كان من اكابر الصحابة لأن مذاهبهم لم تدون ولم تضبط
رياض البديعة- ص 13

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

وَالنَّاسُ فيه ثَلَاثَةُ ضُرُوبٍ مُجْتَهِدٌ وَعَامِّيٌّ وَعَالِمٌ لم يَبْلُغْ رُتْبَةَ الِاجْتِهَادِ أَحَدُهَا الْعَامِّيُّ الصِّرْفُ وَالْجُمْهُورُ على أَنَّهُ يَجُوزُ له الِاسْتِفْتَاءُ وَيَجِبُ عليه التَّقْلِيدُ في فُرُوعِ الشَّرِيعَةِ جَمِيعِهَا وَلَا يَنْفَعُهُ ما عِنْدَهُ من الْعُلُومِ لَا تُؤَدِّي إلَى اجْتِهَادٍ
البحر المحيط في أصول الفقه - (ج 4 / ص 566)

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

مسألة : ك) : شخص طلب العلم ، وأكثر من مطالعة الكتب المؤلفة من التفسير والحديث والفقه ، وكان ذا فهم وذكاء ، فتحكم في رأيه أن جملة هذه الأمة ضلوا وأضلوا عن أصل الدين وطريق سيد المرسلين ، فرفض جميع مؤلفات أهل العلم ، ولم يلتزم مذهباً ، بل عدل إلى الاجتهاد ، وادّعى الاستنباط من الكتاب والسنة بزعمه ، وليس فيه شروط الاجتهاد المعتبرة عند أهل العلم ، ومع ذلك يلزم الأمة الأخذ بقوله ويوجب متابعته ، فهذا الشخص المذكور المدَّعي الاجتهاد يجب عليه الرجوع إلى الحق ورفض الدعاوى الباطلة ، وإذ طرح مؤلفات أهل الشرع فليت شعري بماذا يتمسك ؟ فإنه لم يدرك النبي عليه الصلاة والسلام ، ولا أحداً من أصحابه رضوان الله عليهم ، فإن كان عنده شيء من العلم فهو من مؤلفات أهل الشرع ، وحيث كانت على ضلالة فمن أين وقع على الهدى ؟ فليبينه لنا فإن كتب الأئمة الأربعة رضوان الله عليهم ومقلديهم جلّ مأخذها من الكتاب والسنة ، وكيف أخذ هو ما يخالفها ؟ ودعواه الاجتهاد اليوم في غاية البعد كيف ؟ وقد قال الشيخان وسبقهما الفخر الرازي : الناس اليوم كالمجمعين على أنه لا مجتهد ، ونقل ابن حجر عن بعض الأصوليين : أنه لم يوجد بعد عصر الشافعي مجتهد أي : مستقل ، وهذا الإمام السيوطي مع سعة اطلاعه وباعه في العلوم وتفننه بما لم يسبق إليه ادعى الاجتهاد النسبي لا الاستقلالي ، فلم يسلم له وقد نافت مؤلفاته على الخمسمائة ، وأما حمل الناس على مذهبه فغير جائز ، وإن فرض أنه مجتهد مستقل ككل مجتهد.
بغية المسترشدين - (ج 1 / ص 14)

Dasar pengambilan (4) oleh al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

ولا يجوز تقليد غيرهم بعد عقد الإجماع عليهم لأن مذاهب الغير لم تُدوَّن ولم تُضبَط بخلاف هؤلاء ومن لم يقلد واحداً منهم وقال أنا أعمل بالكتاب والسنة مدّعياً فهم الأحكام منهما، فلا يُسَلَّم له، بل هو مخطئ ضال مُضل سيما في هذا الزمان الذي عمَّ فيه الفسق وكثرت فيه الدعوى الباطلة؛ لأنه استظهر على أئمة الدِّين وهو دونهم في العلم والعمل والعدالة والاطلاع.
تنوير القلوب - (ص 40-41)

Daftar Pustaka:
  1. Riyadlu al Badi’ah. 13
  2. Al Bahru al Muhith. IV/ 566
  3. Bughyah al Mustarsyidin. I/ 14
  4. Tanwir al Qulub. 40-41

=========
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:
  1. Al-Ustadz Tamam Reyadi
  2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi
PERUMUS: Al-Ustadz Ibnu Malik
EDITOR: Al-Ustadzah Naumy Syarif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar