Kamis, 28 Juli 2016

BAB NAJASAH


KOMDA (FKIK)


Soal :
  1. Bagaimana cara mensucikan najis pada lantai ?
Jawaban :
|  Caranya adalah dengan cara menghilangkan bentuk dari najis ‘ainiyyahnya terlebih dahulu, dengan cara dilap dengan kain atau kertas, setelah kering baru di siram dengan air.
Ibarot :
فتح القريب بهامس توشيح على ابن قاسم  ص : 40
وَكَيْفِيَةُ غَسْلِ النَّجَاسَةِ إِنْ كَانَتْ مُشَاهَدَةً بِالْعَيْنِ وَهِيَ الْمُسَمَّاتُ بِالْعَيْنِيَّةِ تَكُوْنُ بِزَوَالِ عَيْنِهَا وَمُحَاوَلَةِ زَوَالِ أَوْصَافِهَا مِنْ طَعْمٍ أَوْ لَوْنٍ أَوْ رِيْحٍ  إلى أن قال  وَإِنْ كَانَتْ النَّجَاسَةُ غَيْرَ مُشَاهَدَةٍ وَهِيَ الْمُسَمَّاةُ بِالْحُكْمِيَّةِ فَيَكْفِي جَرْيُ الْمَاءِ عَلَى الْمُتَنَجِّسِ بِهَا وَلَوْ مَرَّةً وَاحِدَةً .
artinya :
“Cara membasuh najis jika dapat dilihat dengan mata (najis ‘ainiyyah) maka dengan menghilangkan bentuk dari najis terlebih dahulu dan beberapa sifat-sifatnya dari rasa, warna, dan bau – jika najisnya tidak tampak yaitu najis yang di namai dengan najis hukmiyyah, maka di cukupkan dengan mengalirkan air pada tempat yang terkena najis, walauun cuman satu kali.“


Soal :
  1. Bagaimana cara mensucikan kasur yang terkena air kencing ?
Jawaban :
|  Menurut qoul qodim, Cukup dijemur pada terik matahari.
Ibarot :
التهذيب الجزء الأول  ص : 208
وَفِي الْقَدِيْمِ الشَّمْسُ يُطَهِّرُ .
artinya :
“Menurut qoul qodim, matahari dapat mensucikan.”


Soal :
  1. Bagaimana cara membilas baju yang terkena air kencing ?
Jawaban :
|  Jika airnya sedikit maka airnya yang harus mendatangi pakaian yang terkena najis, dengan menghilangkan terlebih dahulu bentuk najis ‘ainiyyahnya baru disiram dengan air dari arah atas, jika airnya banyak (lebih dari dua qolah), maka tidak ada beda antara air yang mendatangi mutanajis atau mutanajis yang mendatanginya.
Ibarot :
فتح القريب بهامس توشيح على ابن قاسم  ص : 41
وَيُشْتَرَطُ فِي غَسْلْ الْمُتَنَجِّسِ وُرُوْدُ الْمَاءِ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ الْمَاءُ قَلِيْلاً وَعَدَمُ جِرْمِ النَّجَاسَةِ فِي نَحْوِ الثَّوْبِ وَإِلاَّ تَنَجَّسَ الْمَاءُ بِمُجَرَّدِ وُرُوْدِهِ عَلَى الْمَحَلِّ . أَمَّا الْكَثِيْرُ فَلاَ فَرْقَ بَيْنَ كَوْنِ الْمُتَنَجِّسِ وَارِدًا أَوْ مَوْرُوْداً .
artinya :
“Dalam membasuh perkara yang terkena najis di syaratkan airnya yang mendatangi najis, jika air tersebut sedikit. dan tidak adanya bentuk najis pada perkara semacam baju, jika tidak demikian maka air tersebut akan menjadi najis dengan sebab mendatangi perkara yang terkena najis tersebut. Jika airnya banyak maka tidak ada perbedaan antara perkara yang terkena najis itu di datangi air atau mendatangi air. ”


Soal :
  1. Bagaimana cara berwudlu orang yang tangannya di perban ?
Jawaban :
|  Orang yang memakai perban harus mengusap jabirohnya (perbannya) dengan air, jika tidak mungkin untuk melepasnya karena takut bahaya. Lalu dia melakukan tayamum untuk mengganti basuhan luka yang di perban dan melakukan sholat tanpa harus I’adah saat sudah sembuh/ perban sudah dilepas. Hal ini ketika peletakan perban dilakukan pada saat dia suci, jika tidak maka dia harus I’adah sholat.
Ibarot :
فتح القريب بهامس توشيح على ابن قاسم  ص : 37
وَصَاحِبُ الْجَبَائِرِ يَمْسَحُ عَلَيْهَا بِالْمَاءِ إِنْ لَمْ يُمْكِنْهُ نَزْعُهَا لِخَوْفِ ضَرَرٍ وَيَتَيَمَّمُ صَاحِبُ الْجَبَائِرِ فِي وَجْهِهِ وَيَدَيْهِ عَنِ الْجَرِيْحِ وَيُصَلِّي وَلاَ إِعَادَةَ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ وَضْعُهَا عَلَى طُهْرٍ وَكَانَتْ فِي غَيْرِ أَعْضَاءِ التَّيَمُّمِ وَإِلاَّ أَعَادَ . هَذَا مَا قَالَهُ النَّوَوِي فِي الرَّوْضَةِ لَكِنَّهُ قَالَ فِي الْمَجْمُوْعِ أَنَّ إِطْلاَقَ الْجُمْهُوْرِ يَقْتَضِي عَدَمَ الْفَرْقِ أي بَيْنَ أَعْضَاءِ التَّيَمُّمِ وَغَيْرِهَا فِي عَدَمِ اْلإِعاَدَةِ , وَيُشْتَرَطُ فِي الْجَبِيْرَةِ أَنْ لاَ تَأْخُذَ مِنَ الصَّحِيْحِ إِلاَّ مَا لاَبُدَّ مِنْهُ لِلْإِسْتِمْسَاكِ وَاللُّصُوْقِ وَالْعِصَابَةِ .
artinya :
“Orang yang memakai jabiroh (perban) harus mengusap jabirohnya dengan air, jika tidak mungkin untuk melepasnya karena takut bahaya. Dia melakukan tayamum untuk mengganti dari basuhan luka yang di perban dan melakukan sholat tanpa harus iadah (mengulangi sholatnya lagi saat sudah sembuh/ perban sudah dilepas) ketika dalam peletakan jabiroh dilakukan pada saat dia suci, dan adanya jabiroh tidak pada anggota tayamum, jika tidak maka sholatnya harus iadah. Ini merupakan pendapat dari Imam Nawawi dalam kitabnya ar-Roudhoh, akan tetapi dalam kitab al-Majmu’ beliau mengatakan bahwa pemutlakan dari Jumhur Ulama’ menuntut tidak adanya perbedaan antara peletakan jabiroh pada anggota tayamum atau tidak dalam masalah tidak adanya iadah sholat. Di syaratkan dalam jabiroh (perban) tidak di perkenankan untuk mengambil anggota yang sehat kecuali secukupnya untuk kekuatan dan ikatan. ”


Soal :
  1. Bagaimana hukum berwudlu dengan gayung ?
Jawaban :
|  Di perbolehkan.
Ibarot :
كفاية الأخيار الجزء الأول  ص : 9-11
(وَطَاهِرٌ غَيْرُ مُطَهِّرٍ: وَهُوَ الٍْمَاءُ الْمُسْتَعْمَلْ). هَذَا هُوَ الْقِسْمُ الثَّالِثُ مِنْ أَقْسَامِ الْمَاءِ، وَهُوَ الْمَاءُ الْمُسْتَعْمَلُ فِي رَفْعِ الْحَدَثِ أَوْ إِزَالَةِ النَّجَسِ إِذَا لَمْ يَتَغَيَّرْ وَلاَ زَادَ وَزْنُهُ  إلى أن قال - (وَالْمُتَغَيِّرُ بِمَا خَالَطَهُ مِنَ الطَّاهِرَاتِ) أَوِ التَّغَيُّرُ الْمَعْنَوِيْ كَمَا إِذَا اخْتَلَطَ بِالْمَاءِ مَا يُوَافِقُهُ فِي صِفَاتِهِ مَاءُ اْلوَرَدِ الْمُنْقَطِعُ الرَّائِحَةِ وَمَاءُ الشَّجَرِ وَالْمَاءُ الْمُسْتَعْمَلِ .
artinya :
“(Dan air yang suci tidak mensucikan. Air tersebut adalah air musta’mal) ini adalah bagian ketiga dari pembagian air, yaitu air yang di gunakan untuk menghilangkan hadast atau menghilangkan najis ketika tidak berubah dan bertambah timbangannya – sampai pada qoul – (Air yang berubah dengan sebab perkara suci yang mencampurinya) atau perubahan secara ma’nawi, sebagaimana ketika air bercampur dengan perkara yang menyamai (cocok) dalam segi sifat-sifatnya, semacam air mawar yang telah terputus aromanya, air pohon, dan air musta’mal.”


Soal :
  1. Bagaimana hukum air satu ember (kurang dari dua kolah) yang tercampur air musta’mal lalu kemudian di buat bersuci ?
Jawaban :
|  Dihukumi suci mensucikan dan boleh untuk di buat bersuci, selama air musta’mal yang mencampurinya tidak lebih banyak dalam segi timbangan atau kira-kiranya.
Ibarot :
المجموع شرح المهذب الجزء الأول  ص : 99
وَحَاصِلُ حُكْمِ الْمَذْهَبِ أَنَّ الْمَائِعَ الْمُخَالِطَ لِلْمَاءِ إِنْ قَلَّ جَازَتْ الطَّهَارَةُ مِنْهُ وَإِلاَّ فَلاَ: وَبِمَاذَا تُعْرَفُ الْقِلَّةُ وَالْكَثْرَةُ يُنْظَرُ: فَإِنْ خَالَفَهُ فِي بَعْضِ الصِّفَاتِ فَالْعِبْرَةُ بِالتَّغَيُّرِ فَإِنْ غَيَّرَهُ فَكَثِيْرٌ وَإِلاَّ فَقَلِيْلٌ وَهَذِهِ هِيَ الْمَسْأَلَةُ الْأُوْلَي مِنَ الْبَابِ الثَّانِي وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ : وَإِنْْ وَافَقَهُ فِي صِفَاتِهِ فَفِيْهَا تُعْتَبَرُ بِهِ الْقِلَّةُ وَالْكَثْرَةُ الْوَجْهَانِ الْمَذْكُوْرَانِ فِي الْكِتَابِ فِي الْمَسْأَلَةِ الثَّانِيَّةِ أَصَحُّهُمَا بِتَقْدِيْرِهِ مُخَالِفًا فِي صِفَاتِهِ كَمَا سَنُوْضِحُهُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى هَكَذَا صَحَّحَهُ جُمْهُوْرُ الْخَرَاسَانِيِّيْنْ وَهُوَ الْمُخْتَارُ: وَمِمَّنْ صَحَّحَهُ الْبَغَوِيُّ وَالرَّافِعِي وَقَطَعَ بِهِ الْقَاضِى حُسَيْنِ بْنِ مُحَمَّدٍ وَأَبُو الْقَاسِمِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدِ بْنِ فَوْرَانْ الْفُوْرَانِي بِضَمِّ الْفَاءِ صَاحِبِ الْإِبَانَةِ وَإِمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَالْغَزَالِي وَآخَرُوْنَ وَالثَّانِي يُعْتَبَرُ الْوَزْنُ فَإِنْ كَانَ الْمَاءُ أَكْثَرَ وَزْناً جَازَتْ الطَّهَارَةُ مِنْهُ وَإِنْ كَان َالْمَائِعُ أَكْثَرَ أَوْ تَسَاوَيَا فَلاَ : وَصَحَّحَهُ صَاحِبُ الْبَيَانِ وَبَعْضُ الْعِرَاقِيِّيْنَ وَقَطَعَ بِهِ الْمَاوَرْدِيْ وَأَبُوْ الْحَسَنِ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدِ بْنِ الْقَاسِمِ الْمَحَامِلِيْ فِي كِتَابَيْهِ الْمَجْمُوْعِ وَالتَّجْرِيْدِ وَأَبُوْ عَلِيْ البُنْدُنَيْجِيْ وَالْمَذْهَبُ الْأَوَّلِ وَلَوْ خَالَطَ الْمَاءَ الْمُطْلَقَ مَاءٌ مُسْتَعْمَلٌ فَطَرِيْقَانِ أَصَحُّهُمَا أَنَّهُ كَالمْاَئِعِ فَفِيْهِ الْوَجْهَانِ وَبِهَذَا قَطَعَ الْجُمْهُوْرُ مِنْهُمْ الْقَاضِي أَبُوْ الطَّيِّبِ طَاهِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ وَصَحَّحَهُ الرَّافِعِيْ وَآخَرُوْنَ وَالثَّانِي يُعْتَبَرُ الْوَزْنُ قَطْعًا وَبِهِ قَطَعَ الشَّيْخُ أَبُوْ حَامِدْ وَأَبُوْ نَصْرِ عَبْدِ السَّيِّدِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَاحِدِ صَاحِبِ الشَّامِلِ الْمَعْرُوْفِ بِابْنِ الصَّبَاغِ ثُمَّ حَيْثُ حَكَمْنَا بِقِلَّةِ الْمَائِعِ إِمَّا لِكَوْنِهِ لَمْ يُغَيِّرِ الْمَاءَ مَعَ مُخَالَفَتِهِ وَإِمَّا لِقِلَّةِ وَزْنِهِ عَلَى وَجْهٍ وَإِمَّا لِعَدَمِ تَغَيُّرِهِ بِتَقْدِيْرِ الْمُخَالَفَةِ عَلَى الْأَصَحِّ فَالْوُضُوْءُ مِنْهُ جَائِزٌ .
artinya :
“Kesimpulan hukum madzhab bahwasannya perkara cair yang mencampuri air jika sedikit maka boleh untuk bersuci dengan menggunakannya, jika tidak maka tidak boleh. Dengan apa dapat di ketahui sedikit banyaknya perkara cair yang mencampuri, dapat dilihat jika ada perbedaan pada sebagian sifat, maka yang dipandang adalah segi perubahannya, jika perkara cair tersebut sampai merubah pada sifat-sifat air maka dikatakan banyak jika tidak maka di katakan sedikit. Masalah ini lebih utama pada bab kedua dan di sepakati. Jika perkara cair yang mencampuri air cocok dalam segi sifat-sifatnya, maka dalam menentukan sedikit banyaknya perkara cair tersebut ada dua wajah yang keduanya di sebutkan dalam kitab muhadzab pada permasalahan kedua. Dan yang lebih Ashoh dari dua wajah tersebut adalah dengan mengira-ngirakan perbedaan dalam sifat-sifatnya, sebagaimana yang akan kami jelaskan nanti Insya Alloh, pendapat itu telah di sahihkan oleh kebanyakan (Jumhur) Ulama Khorosan dan merupakan pendapat yang di pilih. Sebagian ulama yang mensahihkan pendapat tersebut adalah Imam Baghowi dan Imam Rofi’I, dan para ulama yang memastikan keabsahan dari pendapat tersebut adalah Imam Qodhi Husain bin Muhammad, Abu Qosim Abdurrohman bin Muhammad bin Ahmad bin Fauraon al-Furoni pengarang kitab Ibanah, Imam Haromain, al-Ghozali dan yang lainnya. Pendapat kedua mengatakan yang dipandang adalah segi timbangannya, jika air lebih banyak timbangannya dari pada perkara cair yang mencampurinya, maka boleh untuk bersuci dengan menggunakannya, jika perkara cair yang mencampurinya lebih banyak atau sama dalam segi timbangannya maka tidak boleh bersuci menggunakannya. Pendapat ini di sahihkan oleh pengarang kitab Al-Bayan, dan sebagian Ulama Irak, dan para Ulama yang memastikan keabsahan dari pendapat tersebut adalah al-Mawardi, Abu Hasan Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Qosim al-Mahamiliy dalam dua kitabnya al-Majmu’ dan at-Tajrid, dan Abu ‘Ali al-Bundunaijy. Menurut Madzhab (jalan) pertama, jika air musta’mal mencampuri air mutlak maka ada dua jalan, yang mana yang lebih ashoh dari keduanya adalah hukum air musta’mal tersebut disamakan dengan hukum perkara cair yang mencampuri air. Pada pendapat ini ada dua wajah, dan pendapat ini di tetapkan oleh kebanyakan ulama (Jumhur), sebagian dari mereka adalah Qodhi Abu Thoyyib Thohir bin Abdulloh, dan disahihkan oleh ar-Rofi’I serta yang lainnya. Pendapat kedua mengatakan, yang di pandang adalah segi timbangannya secara pasti (bukan taqdiry), pendapat ini di dukung oleh Syekh Abu Hamid (al-Ghozaly), Abu Nasir Abdu Sayid bin Muhammad bin Abdul Wahid pengarang kitab as-Syamil yang terkenal dengan sebutan Ibnu Shobagh. Selanjutnya ketika kami menghukumi dengan sedikitnya perkara cair baik dengan sebab ada kalanya karena perkara cair tersebut tidak merubah air besertaan dengan perbedaan antara keduanya, ada kalanya karena sedikitnya timbangan dari perkara cair tersebut atas satu pendapat, dan ada kalanya karena tidak adanya perubahan dengan mengira-ngirakan perbedaan antara keduanya menurut pendapat ashoh, maka wudhu dengan menggunakan air yang tercampur tersebut di perbolehkan”


Soal :
  1. Berapa ukuran air dua kolah ?
Jawaban :
|  Jika tempatnya berupa kubus maka sekitar 2½ jengkal dalam segi panjang, lebar dan dalamnya.
Ibarot :
حاشية الجمل الجزء الأول  ص : 115
وَالْقُلَّتَانِ بِالْمِسَاحَةِ فِي الْمُرَبَّعِ ذِرَاعٌ وَرُبْعٌ طُولًا وَعَرْضًا وَعُمْقًا بِذِرَاعِ الْآدَمِيِّ وَهُوَ شِبْرَانِ تَقْرِيبًا وَالْمَعْنَى بِالتَّقْرِيبِ فِي الْخَمْسِمِائَةِ أَنَّهُ لَا يَضُرُّ نَقْصُ رِطْلَيْنِ عَلَى مَا صَحَّحَهُ النَّوَوِيُّ فِي رَوْضَتِهِ .
artinya :
“ Dua qolah dengan ukuran pada perkara yang berbentuk segi empat adalah satu dziro’ seper empat dari segi panjang lebar dan dalamnya dengan menggunakan dziro’ manusia yaitu sekitar dua jengkal. Yang dimaksud dengan kata-kata tarib (secara kira-kira) dalam ukuran lima ratus ritl adalah tidak membahayakan jika kurang dari dua ritl, sebagaimana pendapat yang di sahihkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Roudlohnya.”


Soal :
  1. Bagaimana cara mandi besar orang sakit yang tidak boleh terkena air ?
Jawaban :
|  Dengan cara menggantinya dengan tayamum.
Ibarot :
مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج الجزء الأول  ص : 409
بَابُ التَّيَمُّمِ يَتَيَمَّمُ الْمُحْدِثُ وَالْجُنُبُ لِأَسْبَابٍ : أَحَدُهَا : فَقْدُ الْمَاءِ  .
artinya :
“ Bab Tayamum. Orang yang berhadast dan orang yang junub boleh untuk bertayamum dengan beberapa sebab salah satunya adalah tidak menemukan air.”
فتح القريب بهامس توشيح على ابن قاسم  ص : 33
وَشَرَائِطُ التَّيَمُمِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ – إلى أن قال  وَالرَّابِعُ تَعَذُّرُ اسْتِعْمَالِهِ أي الْمَاءِ بِأَنْ يَخَافَ مِنِ اسْتِعْمَالِ الْمَاءِ عَلَى ذِهَابِ نَفْسٍ أَوْ مَنْفَعَةِ عُضْوٍ .
artinya :
“Syarat-syaratnya tayamum ada lima macam – sampai pada – yang keempat adalah adanya udzur untuk menggunakan air, sekira ditakutkan jika menggunakan air akan kehilangan nyawa atau manfaat dari anggota badan.”


Soal :
  1. Bagaimana cara mensucikan ayam yang sudah di potong, sedangkan di dalam dagingnya masih terdapat darah ?
Jawaban :
|  Disucikan sebagaimana umumnya, mengenai darah yang menempel pada daging atau tulang merupakan najis yang dima’fu.
Ibarot :
حواشي الشرواني الجزء الأول  ص : 293
وَأَمَّا الدَّمُّ الْبَاقِي عَلَى اللَّحْمِ وَعِظَامِهِ فَقِيْلَ إِنَّهُ طَاهِرٌ وَهُوَ قَضِيَّةُ كَلاَمِ الْمُصَنِّفِ فِي الْمَجْمُوْعِ وَجَرَى عَلَيْهِ السُّبْكِي  إلى أن قال - وَظَاهِرُ كَلاَمِ الْحَلِيْمِي وَجَمَاعَةٌ أَنَّهُ نَجَسٌ مَعْفُوٌّ عَنْهُ وَهَذَا هُوَ الظَّاهِرُ لِأَنَّهُ دَمٌّ مَسْفُوْحٌ وَإِنْ لَمْ يَسُلْ لِقِلَّتِهِ وَلاَ يُنَافِيْهِ مَا تَقَدَّمَ مِنَ السُّنَّةِ إﻫ
artinya :
“Darah yang tersisa pada daging dan tulang hewan sembelihan menurut satu pendapat dihukumi suci, pendapat ini merupakan kosekwensi dari pendapat Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ dan pendapat ini juga didukung oleh Imam Subky. – sampai pada qoul – namun ungkapan Imam Halimi dan golongan ulama menjelaskan bahwasannya darah tersebut dihukumi najis yang di ma’fu.”
بغية المسترشدين  ص : 17
(مَسْئَلَةٌ ي) لَحْمٌ عَلَيْهِ دَمٌّ غَيْرُ مَعْفُوٍّ عَنْهُ ذُرَّ عَلَيْهِ مِلْحٌ فَتَشَرَّبُهَا طَهَرَ بِإِزَالَةِ الدَّمِّ وَإِنْ بَقِيَ طَعْمُ الْمِلْحِ كَحَبٍّ أَوْ لَحْمٍ طُبِخَ بِبَوْلٍ فَيَكْفِي غَسْلُ ظَاهِرِهِ وَإِنْ بَقِيَ طَعْمُ الْبَوْلِ بِبَاطِنِهِ إِذْ تَشَرَّبُ مَا ذُكِرَ كَتَشَرُّبِ الْمَسَامِ كَمَا فِي التُّحْفَةِ . إﻫ
artinya :
“Jika ada daging yang ada darahnya dan darah tersebut tidak dima’fu lalu di taburi garam sehingga garam tersebut terserap oleh daging, maka daging tersebut dihukumi suci dengan menghilangkan darahnya, walaupun rasa garamnya masih tersisa, sebagaimana biji atau daging yang di masak dengan air kencing, cukup untuk membersihkan bagian luarnya saja, walaupun rasa dari air kencing masih ada dan sampai kebagian dalam daging yang dimasak tersebut, sebab peresapan daging terhadap air kencing tadi sebagaimana peresapan pori-pori.”


Soal :
  1. Bagaimana cara mensucikan beberapa pakaian yang diantaranya sudah terkena najis ? apakah harus di pisah atau bagaimana ?
Jawaban :
|  Idem dengan nomor  3


Soal :
  1. Bagaimana hukum memakan hewan buruan yang di gigit anjing namun kita sempat menyembelihnya ? dan bagaimana cara mensucikannya ?
Jawaban :
|  Hukumnya halal, cara mensucikannya dengan di basuh sebanyak tujuh kali tanpa memakai debu.
Ibarot :
المجموع الجزء الثامن  ص : 408
(الرَّابِعَةُ) التَّسْمِيَّةُ مُسْتَحَبَّةٌ عِنْدَ الذَّبْحِ وَالرَّمْيِ إِلَى الصَّيْدِ وَإِرْسَالِ الْكَلْبِ وَنَحْوِهِ فَلَوْ تَرَكَهَا عَمْدًا أَوْ سَهْوًا حَلَّتْ الذَّبِيْحَةُ لَكِنْ تَرْكُهَا عَمْدًا مَكُرُوْهٌ عَلَى الْمَذْهَبِ الصَّحِيْحِ .
artinya :
“(Yang ke empat) membaca basmalah disunahkan saat menyembelih, melempar tombak kearah hewan buruan, melepaskan anjing pemburu dan sesamanya. Jika meninggalkannya secara sengaja atau lupa maka sembelihannya dihukumi halal, akan tetapi meninggalkan membaca basmalah secara sengaja dihukumi makruh menurut madzhab shohih.”
فتح القريب بهامس توشيح على ابن قاسم  ص :268
فَإِنْ عُدِمَتْ إِحْدَى الشَّرَائِطِ لَمْ يَحِلَّ مَا أَخَذَتْهُ إِلاَّ أَنْ يُدْرَكَ حَيَّا فَيُذَكَّى فَيَحِلُّ حِيْنَئِذٍ .
artinya :
“Jika salah satu dari beberapa syarat tidak ada maka tangkapan/ terkaman dari anjing pemburu tidak halal, kecuali hewan buruannya masih hidup dan langsung disembelih, maka dihukumi halal.”
بغية المسترشدين  ص : 17
(فَائِدَةٌ) الْمَذْهَبُ وُجُوْبُ غَسْلِ مَا أَصَابَهُ الْكَلْبُ مَعَ الرُّطُوْبَةِ وَلَوْ مُعِضًّا مِنْ صَيْدٍ عَلَى الْمُعْتَمَدِ وَقِيْلَ تَكْفِي السَّبْعُ مِنْ غَيْرِ تَتْرِيْبٍ .
artinya :
“(Faidah) Menurut Madzhab wajib untuk membasuh apa yang dikenai anjing besertaan basahan (air liurnya) jika anjing tersebut menggigit hewan buruannya, menurut pendapat yang mu’tamad, namun menurut satu pendapat dicukupkan membasuh tujuh kali dengan tanpa mencampuri debu.”
فتح الجواد  ص : 25
وَعِضَّةُ الْكَلْبِ يَكْفِي غَسْلُ طَاهِرِهَا .
artinya :
“Gigitan anjing di cukupkan membasuh dhohirnya saja”



SEMOGA BERMANFAAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar