Selasa, 02 Agustus 2016

MENIKAHI WANITA CANTIK

1. Kriteria calon istri atau suami yang sunnah dan ideal:
(a). Kriteria yang paling utama adalah kecantikan batin (inner beauty) : calon istri yang dayyinah (beragama) dan calon suami yang dayyin (beragama).
Maksud dayyinah atau dayyin adalah memiliki sifat ‘adalah (kepribadian yang adil) seukuran taat pada Agama Islam, menunaikan amal sholih dan menjaga diri dari semua larangan agama. b). Kriteria tambahan diantaranya adalah kecantikan lahir (outer beauty): wanita cantik dan suami tampan secara lahiriyah.)
2. Kecantikan atau ketampanan adalah suatu sifat yang melekat pada pribadi seseorang yang dinilei indah menurut beberapa orang yang memiliki watak normal.
3. Perbedaan husnu, jamal dan malahah pada pribadi seseorang: a) . Indah (husnu): terletak pada mata. (b). Baik (jamal): terletak pada hidung dan pipi. (c). Manis (malahah): terletak pada bibir.)
4. Ketampanan calon suami: relative menurut watak wanita walaupun pria tadi hitam kulitnya, seukuran ketampanan calon suami telah mampu menciptakan sifat iffah atau menjaga kehormatan diri seorang wanita dari melakukan suatu hal yang haram.
5. Kecantikan calon istri: (a). Menurut Imam Ibnu Hajar: cantik yang relatif menurut tabiat laki-laki walaupun wanita itu berkulit hitam, seukuran kecantikan calon istri telah mampu menumbuhkan sifat iffah atau terjaga kehormatan diri laki-laki dari melakukan maksiat. (b). Menurut Imam Romli: cantik menurut penileian orang-orang yang berwatak normal.
6. Wanita yang terlalu cantik: makruh menikahi wanita yang sangat cantik (bari’atul jamal) karena akan bersikap sombong pada suami karena faktor beauty lahiriyahnya dan akan menarik perhatian banyak mata laki-laki lain.
7. Efek egative kecantikan: bisa menjadi bahan perbincangan orang lain yang mengakibatkan fitnah, lirikan dan godaan verbal laki-laki yang nakal (fajir) .

Dasar Pengambilan:
قَوْلُهُ : ( جَمِيلَةً ) أَيْ بِاعْتِبَارِ طَبْعِهِ فِيمَا يَظْهَرُ وَلَوْ سَوْدَاءَ مَثَلًا وَإِنْ قُلْنَا الْجَمَالُ عُرْفِيٌّ ؛ لِأَنَّ الْمَدَارَ هُنَا عَلَى الْعِفَّةِ وَهِيَ لَا تَحْصُلُ إلَّا بِجَمَالٍ بِحَسْبِ طَبْعِهِ ، لَكِنْ تُكْرَهُ بَارِعَةُ الْجَمَالِ ؛ لِأَنَّهَا إمَّا أَنْ تَزْهُوَ أَيْ تَتَكَبَّرَ لِجَمَالِهَا أَوْ تُمَدُّ الْأَعْيُنُ إلَيْهَا زِيَادِيٌّ .قَالَ م ر فِي شَرْحِهِ : وَالْمُرَادُ بِالْجَمَالِ كَمَا أَفْتَى بِهِ الْوَالِدُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى الْوَصْفُ الْقَائِمُ بِالذَّاتِ الْمُسْتَحْسَنُ لِذَوِي الطِّبَاعِ السَّلِيمَةِ ، وَقَدْ قَالَ الْإِمَامُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : مَا سَلِمَتْ ذَاتُ جَمَالٍ قَطُّ أَيْ مَا سَلِمَتْ مِنْ التَّكَلُّمِ فِيهَا أَيْ مِنْ فِتْنَةٍ أَوْ تَطَلُّعِ فَاجِرٍ إلَيْهَا أَوْ تَقَوُّلِهِ عَلَيْهَا كَمَا فِي ع ش . حاشية البجيرمي على الخطيب. الجز 10. ص 37. (1)*
Dasar Pengambilan: ( قوله وجميلة ) أي بحسب طبعه ولو سوداء عند حجر أو بحسب ذوي الطباع السليمة عند م ر وتكره بارعة الجمال لأنها إما أن تزهو أي تتكبر لجمالها أو تمتد الأعين إليها. ﺣﺎﺷﻴﺔ ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ. الجز 2. ص 270. (2)*